Recent Posts

Jumat, 22 Juli 2016


MARYONO

Saat ini aku merasa bimbang ,dilemma dan hampir putus asa.Semuanya bercampur aduk.Ikah saat titik Nadirku?.Puncak dari kesanggupanku dalam menghadapi kenyataan yang akan dating padaku.Hanya ayah harapanku satu-satunya.Aku berharap  ia  kembali memberiku kesejukan sebagaimana hari-hari yang telah kami lewati  bersama.Apalagi dengan pertemuanku esok hari dengannya
                                               Aku adalah anak yang terlahir dari lingkungan keluarga yang taat beragama.Rajin beribadah sudah menjadi gaya hidup keluargaku.Mereka meyakini peran penting tuhan dalam setiap penyelesaian masalah.Namun aku justru bertanya –tanya dalam batinku”Mengapa peran penting tuhan itu belum aku rasakan dalam setiap penyelesaian masalah-masalahku?aku merasa kasih sayang tuhan tidak berlaku untukku”
                                               Malam ini suasana rumah tampak biasa saja.Tidak ada suatu yang istimewa.
Saat ini aku melihat Ayah sedang santai membolak–balikkan majalah yang baru beliau beli.Aku ayunkan kakiku dan mendekat kepadanya.Aku berharap  ia dapat menghiburku malam ini.Aku bertanya kepada ayah ku ,aku berharan ayah mempunyai jawaban dari semua masalahku.
                                               Ayah diam sejenak ,lalu ia berkata “Ayah memiliki cerita,mungkin cerita ini dapat menyenangkan hatimu.”Kata ayah memulai obrolan.
“Orang-orang memanggilnya Maryono,tipikal orang sederhana,tetapi ia bukan orang yang dikaruniai  wajah yang tampan dan juga tidak begitu pintar ,bahkan dia SD saja tidak tamat.Iamemiliki dua orang anak dan seorang istri yang sangat taat padanya.Suatu hari ,Maryono dihadapkan dengan masalah yang berat berhubungan dengan ekonominya.Saat dia temenung menghadapi himpitan itu ,terlintas di  benaknya  wajah dari gurunya .Bermaksud  mencari jalan keluar dari ,sontak Maryono mengambil sepeda tuanya dan iya kayuh tanpa lelah menuju rumah gurunya .Setelah menunggu  beberapa jam,akhirnya Maryono kembali berjumpa dengan sosok  yang sudah hamper 15 tahun tidak pernah  dia temui.Tampak  akrab  obrolan mereka .Namun begitu,Maryono masih tetap menjaga sikap sebagai tanda hormat kepada sang guru.Disela –sela obrolan itu,tanpa beban Marryono mengajukan sebuah pertanyaan kepada sang guru
“Mengapa kasih sayang Tuhan tidak pernah aku rasakan? Mungkinkah itu karena sholatku yang salah ?.Menurutku aku sudah sholat dengan tertib dan benar.Tapi tetap saja Tuhan tidak menunjukkan kasih sayangnya kepadaku?”
“Kalau secara syariat  sholatmu  sudah benar,tapi mungkin kamu belun sholat dengan benar dalam kehidupanmu “Jawab sang guru ,”Lalu bagaimana cara sholat dalam kehidupan itu?”Tanya Maryono penasaran.
“Inti sari dari sholat adalah bersujud .Bersujud artinya tunduk dan tulus; tunduk atas perintah-Nya,dan tulus menerima nasib yang diberikan Tuhan kepada mu”Jawab sang guru .Maryono termangun –mangun mendengar penjelasan dari sang guru.Sejenak Maryono ter ingat dengan hari-hari yang dia lalui ,bagi Maryono  selama ini sholat hanyalah rutinitas biasa tanpa makna.Maryono juga merasakan  setelah menjalankan rutinitas itu seakan-akan lepas dari sandera,terhindar dari ancaman cambuk neraka.Setelah  dirasa cukup mendapatkan pencerahan dan bimbingan dari gurunya ,Maryono pun bergegas pamit,dan kembali ia kayuh  sepeda tuanya sambil menikmati terpaan angin yang menyapu wajahnya
Hari demi hari ia jalani kehidupan dengan berbagai macam ujian yang datang kepadanya.Kehidupannya masih ,dan masih serba kekurangan.Bahkan suatu hari, istrinya tidak memasakkan nasi untuknya karena memang tidak ada yang bisa dimasak.Maryono teringat akan kata dari gurunya.Sejenak  ia merenung dan berbisik lirih di dalam hatinya bahwa mungkin ini kehendak Tuhan agar Maryono berpuasa .Ia pun tetap tulus menghadapi  semua itu .Ternyata ,karena puasa yang sering Maryono jalani dengan tulus itu pun membuat beberapa penyakit yang seringkali melanda Maryono telah hilang,karena rizki itu Maryono semakin iklas manjalani hidup berasama keluarganya”
Aku semakin merapatkan sandaranku  pada ayah .Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya  aku dengarkan dengan seksama walau aku tahu ayah bukanlah sosok yang pandai bercerita ,tapi dekapan tangannya dan ketulusan yang ayah berikan kepadaku telah nenyejukkanku.Sejenak ayah pun menghentikan ceritanya karena batuk yang beliau derita yang hampir seminggu lebih ini.Sesaat kemudian  ,masih tentang Maryono,ayah melanjutkan ceritanya.
“Suatu hari Maryono mendapat kepercayaan dari tetangganya untuk memelihara seekor induk sapi dan anak sapi yang kira-kira dihargai 4 juta oleh si pemilik .Tanpa pertimbangan lagi Maryono menerima tawaran itu dengan senang hati.”Mungkin ini addalah jalan yang harus aku tempuh “gumam Maryono  lirih.
Setelah satu tahun lamanya Maryono memelihara sapi,kini si induk sapi memiliki dua anak  yang masing-masing berumur 1 dan 2 tahun.Suatu ketika si pemilik menyuruh Maryono untuk menjual salah satu anak sapi itu.Si pemilik menjanjikan setengh dari keuntungn menjual anak sapi diberikan kepada Maryono.Sesampainya di pasar ,anak sapi itu di tawar Rp 4.800.000,jika dihitung –hitung hanya mendapat untung  sebesar Rp 800 000 saja.Maryono ragu dengan tawaran itu ,Maryono takut si pemilik mendapat keuntungan yang tidak seperti yang diharapkan si pemilik karana nantinya keuntungn akan di bagi dua dengan Maryono.Sebenarnya Maryono tidak peduli dia mendapat bagian berapa,yang Maryono khawatirkan hanyalah kepuasan si pemilik sapi.
Hari itu ,kembali Maryono tuntun  anak sapi pulang tanpa hasil .Keesokan harinya Maryono  dating menghadap sang pemilik  dan mengutarakan hasil penawaran yang Maryono dapatkan  kemarin.”Pak saya kurang bisa bersilat lidah dengan pera penawar sapi ,sapi bapak hanya ditawar empat juta delapan ratus,saya takut bapak kecewa dengantawaran ini,karena itu  sapi bapak saya bawa pulang kembali ,dan kedatangan saya kemari untuk minta persetujuan bapak apakah sapi bapak dijual segitu atau ingin lebih ,jika bapak ingin lebih sebaiknya bapak menjualanya sendiri ,karena yang bapak ketahui seya tidak pandai tawar menawar”kata Maryono merendah
“Ya segitu saja Yon ,itu saja juga sudah cukup!”jawab si pemilik sapi,setelah mendapat jawaban Maryono bergegas menjual anak sapi ke penawar yang kemarin ia temui.Setelah anak sapi terjual,dengan langkah gembira Maryono susuri jalan dengan kaki yang tak beralas apapun kecuali kulitnya sendiri,dengn keadaan itu Maryono pergi ke tempat pemilik sapi untuk memberikan uang hasil penjualan sapi.
Keesokan harinya,pemilik sapi datang dan memberi sebuah amplop kepada Maryono,tanpa nafsu                                                                                                        apapun Maryono membuka amplop itu,Bagai tersembar petir Maryono kaget dengan isi amplop itu,yang sebenarnya berisi sejumlah uang yang sangat berjumlah Rp2.400.000 ,yaitu setengah dari harga jual sapi,Maryono terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
Esok harinya Maryono bertanya dengan si pemilik sapi tentang uang bagiannya yang diberikan pemilik sapi kemarin “Pak ,uang yang bapak berikan kemarin apa tidak terlalu banyak ,kata bapak bagian saya adalah setengah dari keun tungan bukan setengah dari harga jual,apa jumlah yang bapak berikan tidak terlalu banyak pak?”Tanya Maryono gelisah                                                                                                                                              “Tidak Yon  memang segitu yang ingin aku berikan kepadamu!”Jelas si pemilik ,Maryono masih ragu untuk menggunakan uang itu ,Maryono mengira uang itu belun pantas untuk iya gunakan karena pikirnya uang itu bukan haknya,jadi Maryono hanya menyimpan usng itu di almari dan tidak pernah iya sentuh sampai setahun lamanya .
Hingga suatu hari seorang teman datang menawari Maryono sepedah montornya untuk dibeli Maryono.”Yon ….sekarang  aku  lagi butuh uang ,kau belilah motorku ini !”pinta temannya
“bagaimanaya…,kamu kan tau bagaimana keadaanku tak mungkin aku bisa membeli montormu dengan harga mahal.”jelas Maryono,
“taka pa lah kamu beli montorku ini dengn harga murah,begini saja kamu belilah montorku ini dengn harga 2 juta 4 ratus ribu,itu sudah harga terendah kutawarkan khusus untukmu!”tawar si teman.Seketika Maryono itu Maryono teringat uang yang telah disimpannya di almarinya selama ini,sejenak dia tertegun dan tidak terasa buliran air mata menetes di pipinya saat dia memegang uang hasil jerih payahnya yang telah lama di simpan,kini Maryono tuhan telah menunjukkan kebesaran-Nya  kepada dia bahwa uang itu memanglah hak Maryono bukan  seperti yang Maryono fikirkan selama ini,dengan uang itu Maryono membeli motor temannya
              Dua hari kemudian si pemilik sapi datang dan mengetahui bahwa Maryono sudah memiliki motor.”Yon ,motormu baru ya…?”,Tanya si pemilik sapi
“ya beginilah pak ,hanya motor sederhana”,jawab Moryono
“Begini  Yon,juallah anak sapiku yang satunya ,kamu jual berapa saja terserah kamu !”,suruh pemilik sapi.Setelah terjual Maryono datang ke rumah pemilik sapi untuk menyerahkan uang hasil penjualan.Tapi si pemilk sapi berkata,”Kenapa kamu menyerahkan uang ini kepada ku?”,kata si pemilik sapi.Maryono terkejut dan sama sekali tidak menyangka dengan apa yang baru ia dengar.Mendengar cerita ayah,aku kagum dengan ketulusan Pak Maryono.
       Masih tentang Maryono,kembali ayah melanjutkan ceritanya di malam ini.
      Bukan itu saja wujud kasih sayang Tuhan pada Maryono.Suatu hari di tempat Maryono bekerja seorang teman mengajaknya pindah bekerja di tempat lain yang lebih besar gajinya,,taspi Maryono menolak.Mengetahui percakapan Maryono dengan temannya majikan Maryono menyuruh dia ikut temannya bekerja di tempat lain yang gajinya lebih besar,akan tetapi Maryono todak mau menuruti perintah majikannya itu,dia berkata kepada majikannya”Tidak pak ,saya belerja di sini saja sampai bapak tak membutuhkan saya lagi saya tidak akan pundah ketempat lain, karena saya percaya  bekerja ditempat bapak ini merupakan perintah Tuhan yang harus saya jalani”,jawab Maryono.karena terharu dengan pekataan Maryono membuat si majikan menaikkan gaji Maryono ,kembali Maryono tertegun dengan kejadian itu ,ia merasa Tuhan begitu menyayangi diri dan keluarganya.
     Tiga hari setelah itu ,tetengga Maryono memintanya untuk merawat kambingnya.Maryono .Maryono pun dengan senang hati memenuhi permintaan tetangganya itu .ia  pun menjalankan tanggung jawabnya dengan telaten,hingga suatu hari si kambing yang telah lama bunting kini sudah melahirkan tiga anak  sekaligus.Saat itu adalah masa-masa paling sibuk ,karena anak-anak kambing butuh perhatian khusus .Dirasa anak-anak kambing sudah bisa mandiri ,maka Maryono bisa sedikit lebih rileks.Paginya Maryono terkejut ketika menyaksikan tiga anak kambing  yang dipeliharanya mati tertindih tubuh induknya .dengan keberanian dan berbekal tanggungjawab yang besar ,Maryono melaporkan kejadian pagi tadi kepada ibu pemilik kambing ,”Bu saya  minta maaf ,semua ank kambing ibu meninggal semua ,karena tertindih tubuh induknya “.Mengetahui apa yang terjadi pada kambingnya,pemilik kambingmarah marah dan memaki Maryono “kamu ini bagaimana tr kamu itu gak becus merawat kambing-kambingku,ya sudah kalau begitu aku ambil kembali kambing-kambingku”.Namun ,Maryono hanya bisa pasrah dan percaya bahwaii semua  sudah diatur oleh Tuhan ,dan Tuha selalu tahu atas apa yang terbaik bagi hambanya .Maryono berpikir ,”Mungkin aku memang kurang maksimal mengurus kambingnya itu .Tapi ya  sudahlah “,ucap Maryono dalam hati .Mengetahui apa yang terjadi pada kambingnya,nampajk jelas guratan kecewa pemilik kambing pada Maryono .Tanpa pilihan lain ,Maryono pun mengiklaskan apa yang terjadi pada dirinya .Kembali ia percaya bahwa ini semua kehendak –Nya .Keesokan harinya si pemilik datang dan member sejumlah uang kepada Maryono .Maryono kebingungan dan bertanya kepada si pemilik kambing “Bu…kenapa ibu member saya uang,bukankah ibu belum mendapat untung dari kambing ibu?”Tanya Maryono,”ya in hakmu  ,dan ini juga kewajibanku!”,jawab si pemilik kambing.sekali lagi ia buat tertegun dengan apa yang ia alami.Kembali ia berbisik “oh Tuhan,terimakasih.Maafkan aku yang telah berburuk sangka  kepadaMU  dan Engkau telah menunjukkan kasih sayang –Mu kepadaku.
   “Nah ,begitu ceritanya  ,sekarang  apakah kamu sudah menemukan jawaban dari masalah mu?,dan sudahkah kamu menemukan kasih sayang Tuhan?”,”oh satu lagi apa kesimpulanmu dengan cerita ini?”,Tanya ayah kembali .Aku hanya tersenyum.pikirku pertanyaan ayah sama saja dengn ayah apakah aku akan melakukan hal layaknya yang Maryonp lakukan .
              Begitulah ,obrolan kami malamini .Tidak terasa malam makin larut ,ayah pun menyuruhku untuk segera tidur karena esok kami harus segera betangkat menuju bandara untuk menjemput ibu yang sudah sekian tahun meninggalkan kami berdua,mengadu nasib di negri orang!
              Kuatkah aku esok ,ketika aku tahu bahwa ibu sudah tidak sendiri lagi,.Esok ibu akan menemui kami sambil mendekap anak kecil yang masih membutuhkan dekapannya .Seorang balita yang lahir dari rahimnya .Masihkah aku harus mencurigai-Nya ?”.Andai saja aku boleh memilih ,aku ingin  seperti sosok Maryono yang di ceritakan ayah,tapi entahlah…. 

0 komentar:

Posting Komentar