Sabtu, 06 November 2021
22.13
No comments
Bukan Prokernya ini lah Kiprah Fatayat Sesungguhnya
Oleh: Husniyyah Badriyyati.
Assalamualaikum sahabat pembaca…
Sebelum kita membahas mengenai kiprah fatayat mari kita mengenal terlebih dahulu apa sih itu Fatayat, kan kata pepatah tak kenal maka kenalan eak, eh udah dulu ba…bi…bu nya karena udah di tungguin bang tukul untuk KEMBALI KE LAPTOP!!!
Fatayat NU adalah organisasi perempuan muda muslim NU yang berdiri pada tahun 14 Februari 1950, jadi udah berapa tahun nih sahabat umur Fatayat NU? Yup udah tujuh puluh satu tahun aja nih, jika dilihat seberapa tuanya organisasi ini di Indonesia, maka bisa dikatakan sudah sangat banyak Fatayat NU membantu kemajuan bangsa Indonesia.
Jam terbang Fatayat NU yang sudah tak lagi muda ini telah membentuk kepengurusan yang sangat aktif di 33 provinsi di Indonesia, ada lebih dari 423 cabang, hingga sampai ke luar negeri juga loh sahabat. Bertahan dengan umur yang tidak muda dan dengan banyaknya jumlah anggota tak akan ada artinya apabila kualitas dan manfaat organisasinya kecil betul gak sahabat?.
Nah menjadi bermanfaat inilah yang menjadi kiprah Fatayat NU, mengadakan berbagai kerjasama dan program-program yang solutif adalah salah satu caranya, mencetak kader yang memiliki sikap konsisten dan militan juga tak kalah pentingnya. Semuai ini harus dilakukan di setiap lapisan tidak memandang cabang atau ranting, terutama dilakukan ditingkat ranting Fatayat NU yang ada di desa-desa. Dengan demikian Fatayat NU dapat memberikan kontribusi bagi masayarakat sebagai kiprah Fatayat NU itu sendiri sampai ke pelosok wilayah Indonesia.
Untuk memenuhi kiprah Fatayat NU, ranting-ranting desa telah mengadakan berbagai proker (Program Kerja) yang bermanfaat bagi masyarakat luas, Seperti halnya Fatayat NU desa Sumberjo Kulon kecamatan Ngunut kabupaten Tulungagung atau kita sebut saja Fatayat NU ranting Sumberjo Kulon, yang tidak lain adalah ranting Fatayat NU yang saat ini penulis ikuti, yang tentu saja amat sangat penulis banggakan he…he...he…
Selama lebih dari 17 tahun Fatayat NU ranting desa Sumberjo Kulon telah bertahan serta berkembang mengikuti perkembangan zaman, dengan program kerja-program kerja yang dinamis pula sesuai dengan berkembangnya permasalahan-permasalah yang muncul di masyarakat dewasa ini.
Beberapa program kerja yang pernah dilakukan oleh Fatayat NU ranting desa Sumberjo kulon sebagai bentuk pemenuhan kiprah Fatayat NU yang bermanfaat untuk masyarakat adalah sebagai berikut :
Pengadaan penggalangan dana bagi saudara muslim di indonesia yang terkena musibah. Sebagai wujud kepedulian Fatayat NU ranting desa Sumberjo Kulon terhadap korban bencana alam kami mengadakan penggalangan dana, tidak hanya uang kami juga menerima barang-barang yang mungkin bermanfaat bagi korban bencana, seperti baju, kebutuhan pokok, buku, tas, dan barang-barang berguna lainnya.
Selain itu kami juga hampir setiap tahun di bulan puasa selalu mengadakan bagi-bagi takjil gratis, tahun lalu kami mengadakan bagi-bagi takjil bersama dengan Muslimat bertempat di Masjid Al-Amin desa Sumberjo Kulon yang letaknya strategis di pinggir jalan, untuk menu yang dibagikan sendiri kami memasaknya sendiri di rumah bu Maryati, adapun menu yang dibagikan adalah es dawet dan jajanan pasar seperti roti donat, molen dan lain sebagainya, es dawet bikinan ibu-ibu Fatayat NU desa Sumberjo kulon seger banget loh sahabat pembaca, wajib banget untuk dicoba.
Untuk menjaga kekompakan dan mempertahankan sikap konsisen terhadap para anggota Fatayat, kami juga mengadakan kegiatan rutin Selapanan, meskipun dari PAC juga mengadakan Selapanan, kami memutuskan juga mengadakan Selapanan di tingkat desa yang dilakukan bergiliran dari rumah kerumah anggota satu bulan sekali.
Selain kegiatan-kegiatan di atas tadi masih banyak lagi program kerja yang kami laksanakan, ya kalo penulis tulis semua disini bakal rontok jari-jari penulis (padahal aslinya males). Pokok nya masih banyak lah prokernya karena selain proker dari ranting kami juga mengikuti proker yang diadakan oleh PAC Fatayat NU kecamatan juga, contohnya seperti lomba Mars Virtual kemarin yang alhamdulillah kami bisa mendapat juara 3, uh bangga banget gak sih bisa dapet juara. (yeh juara tiga doang bangga).
Dalam menjalankan setiap program kerja tersebut tentu saja tidak mulus-mulus aja kayak kulit orang-orang Korea yang glowing, tentu saja banyak suka duka yang harus dialami oleh anggota-anggota kami, nih beriku ini penulis bakal cerita hasil wawancara penulis kepada beberapa anggota Fatayat tentang pengalaman-pengalaman mereka selama berkiprah di Fatayat NU ranting desa Sumberjo Kulon.
Pertama cerita dari bu Irun yang tidak lain adalah ketua Fatayat kami yang asik orangnya, humoris dan sedikit cerewet (dikit doang kok bu cerewetnya), kata beliau tidak gampang untuk memimpin para ibu-ibu Fatayat “namanmya juga ibu-ibu, ya jelas susah di arahinnya, yakan udah biasa cerewet sendiri di keluarganya, la ini mau di cereweti ya ndak kondal” jawab beliau, pernah dan bahkan sering terjadi ketika sedang melaksanakan proker Fatayat anggota mengalami kres atau bertengkar, yang diakibatkan oleh perbedaan pendapat yang tak kunjung ketemu titik temunya, padahal masalahnya sepele cuma masalah menu apa yang akan dihidangkan ketika selapanan.
Ketika mengikuti lomba mars kemarin juga gak lepas dari percekcokan, alhamdulillahnya gak sampai mengakibatkan perang dunia ke tiga, dibalik tropi juara 3 yang kami dapatkan ternyata banyak rintangan yang dihadapi, mulai dari janjian latihan jam 1 tapi datengnya pada jam 2, ada juga yang katanya datang tapi ternyata sampai acaranya selesai orangnya gak nongol-nongol, sampai ngeributin masalah seragam yang melulu gonta-ganti “ya yang namanya perempuan kan emang gitu,ya suka dandan, udah punya baju tapi bilangnya gak ada baju” begitu jelasnya. Karena itu munculah percekcokan antara ibu-ibu yang pengen seragam baru degan ibu-ibu yang gak pengen buang-buang uang lagi untuk seragam baru.
Di saat yang seperti itu bu Irun harus menjadi netral dan tetap santai “biar gak mbedosss” kata beliau, Untungnya meski sering berselisih pendapat anggota Fatayat bisa akur kembali “ya akur begitu aja, gak di apa-apain” ucap bu Irun kembali. Menurut bu Irun mereka bisa cepat akur kembali karena udah biasa barengan dan tiap ada acara pasti barengan sehingga mau gak mau harus akur, nah hal tersebutlah yang menurut bu Irun sebagai kiprah Fatayat yang paling bisa dirasakan, melaluli Fatayat para perempuan muda di desanya bisa saling bersosialisasi, bisa saling mengenal yang mengakibatkan terciptanya kerukunan.
Gak cuma bu Irun yang punya cerita bu Kalimah atau panggilan akrabnya bu Kalim juga punya cerita selama berkiprah menjadi anggota Fatayat NU desa Sumberjo kulon, menurut bu Kalim hal yang mnyenangkan ketika berFatayat adalah ketika ziaroh wali, saat itu berkat mengikuti fatayat beliau bisa melihat Monumen Nasional atau Monas di Jakarta, yang sebelumnya bu Kalim tidak menyangka bisa pergi sejauh itu.
Karena belum pernah ke sana beliau hampir tersesat akibat tidak mengetahui arah jalan “itu waktu habis dari Monas mau ke masjid Istiqlal, sebenernya deket cuma jalannya serah jadi harus muter-muter dulu”Ucap bu Kalim sambil mengingat-ngingat kembali, untungnya bu Kalim tak sendiri saat itu ada bu Dewi, bu Sul, bu Har, dan pak Candra yang sama-sama bingung, karena ada yang menemani membuat bu Kalim tidak panik setidaknya ada temennya kalo nanti misalnya hilang (lah dasar bu Kalim ini emang suka ngajak-ngajak temen kalo lagi susah wk...wk...wk, bercanda ya bu!)
Bu Kalim juga bercerita kebahagiaannya ketika latihan mars untuk mengikuti lomba mars virtual, dimana beliau merasa bukan orang yang memiliki suara bagus namu ketika masuk dapur rekaman suaranya jadi bagus, “pakai saringan ituloh, suaranya jadi bagus” haduh bukan saringan bu itu namanya Pop Filter (penulis sok tahu padahal gara-gara barusan browsing).
Bu Kalim juga berkata bahwa tidak menyangka bisa menang kala itu, namun kemenangan tersebut tidak lepas dari para anggota yang alhamdulillah bisa kompak meski ya ada bertengkarnya dikit. Seakan mendukung pendapat bu Irun, bu Kalim juga mersa bahwa manfaat yang bisa ia rasakan selama berfatayat adalah ketika bisa bersama-sama dengan teman-teman sebaya, berkegiatan bersama, dengan tujuan yang positif dan tidak melenceng dari kaidah agama.
Dari opini diatas penulis juga setuju bahwa, manfaat yang paling di rasakan selama berfatayat adalah ketika bisa bertemu dengan teman-teman sebaya, bersosialisasi, berbagi suka dan duka, hal ini lah yang menjadi kiprah berFatayat sesungguhnya yang selalu kami lakukan, yaiu menjadikan Fatayat sebagai wadah bagi perempuan muda di desa kami untuk bersosialisasi membangun kerukunan, mempertahankan sifat gotong royong dan peduli dengan sesama berlandaskan akidah islam. Jadi bukan tujuan atau manfaat dari proker yang kita buat saja yang jadi kiprah kami namun juga proses ketika melaksanakan proker tersebutlah yang menjadi kiprah kami selama menjadi anggota Fatayat NU.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar