MARYONO
Saat ini aku merasa bimbang
,dilemma dan hampir
putus asa.Semuanya bercampur aduk.Ikah saat titik Nadirku?.Puncak dari
kesanggupanku dalam menghadapi kenyataan yang akan dating padaku.Hanya ayah
harapanku satu-satunya.Aku berharap ia kembali memberiku kesejukan sebagaimana
hari-hari yang telah kami lewati
bersama.Apalagi dengan pertemuanku esok hari dengannya
Aku
adalah anak yang terlahir dari lingkungan keluarga yang taat beragama.Rajin
beribadah sudah menjadi gaya hidup keluargaku.Mereka meyakini peran penting
tuhan dalam setiap penyelesaian masalah.Namun aku justru bertanya –tanya dalam
batinku”Mengapa peran penting tuhan itu belum aku rasakan dalam setiap
penyelesaian masalah-masalahku?aku merasa kasih sayang tuhan tidak berlaku
untukku”
Malam
ini suasana rumah tampak biasa saja.Tidak ada suatu yang istimewa.
Saat ini aku melihat Ayah sedang
santai membolak–balikkan majalah yang baru beliau beli.Aku ayunkan kakiku dan
mendekat kepadanya.Aku berharap ia dapat
menghiburku malam ini.Aku bertanya kepada ayah ku ,aku berharan ayah mempunyai
jawaban dari semua masalahku.
Ayah
diam sejenak ,lalu ia berkata “Ayah memiliki cerita,mungkin cerita ini dapat
menyenangkan hatimu.”Kata ayah memulai obrolan.
“Orang-orang memanggilnya
Maryono,tipikal orang sederhana,tetapi ia bukan orang yang dikaruniai wajah yang tampan dan juga tidak begitu
pintar ,bahkan dia SD saja tidak tamat.Iamemiliki dua orang anak dan seorang
istri yang sangat taat padanya.Suatu hari ,Maryono dihadapkan dengan masalah
yang berat berhubungan dengan ekonominya.Saat dia temenung menghadapi himpitan
itu ,terlintas di benaknya wajah dari gurunya .Bermaksud mencari jalan keluar dari ,sontak Maryono
mengambil sepeda tuanya dan iya kayuh tanpa lelah menuju rumah gurunya .Setelah
menunggu beberapa jam,akhirnya Maryono
kembali berjumpa dengan sosok yang sudah
hamper 15 tahun tidak pernah dia temui.Tampak akrab
obrolan mereka .Namun begitu,Maryono masih tetap menjaga sikap sebagai
tanda hormat kepada sang guru.Disela –sela obrolan itu,tanpa beban Marryono
mengajukan sebuah pertanyaan kepada sang guru
“Mengapa kasih sayang Tuhan tidak
pernah aku rasakan? Mungkinkah itu karena sholatku yang salah ?.Menurutku aku
sudah sholat dengan tertib dan benar.Tapi tetap saja Tuhan tidak menunjukkan
kasih sayangnya kepadaku?”
“Kalau secara syariat sholatmu
sudah benar,tapi mungkin kamu belun sholat dengan benar dalam
kehidupanmu “Jawab sang guru ,”Lalu bagaimana cara sholat dalam kehidupan
itu?”Tanya Maryono penasaran.
“Inti sari dari sholat adalah
bersujud .Bersujud artinya tunduk dan tulus; tunduk atas perintah-Nya,dan tulus
menerima nasib yang diberikan Tuhan kepada mu”Jawab sang guru .Maryono
termangun –mangun mendengar penjelasan dari sang guru.Sejenak Maryono ter ingat
dengan hari-hari yang dia lalui ,bagi Maryono
selama ini sholat hanyalah rutinitas biasa tanpa makna.Maryono juga
merasakan setelah menjalankan rutinitas
itu seakan-akan lepas dari sandera,terhindar dari ancaman cambuk
neraka.Setelah dirasa cukup mendapatkan
pencerahan dan bimbingan dari gurunya ,Maryono pun bergegas pamit,dan kembali
ia kayuh sepeda tuanya sambil menikmati
terpaan angin yang menyapu wajahnya
Hari demi hari ia jalani
kehidupan dengan berbagai macam ujian yang datang kepadanya.Kehidupannya masih
,dan masih serba kekurangan.Bahkan suatu hari, istrinya tidak memasakkan nasi
untuknya karena memang tidak ada yang bisa dimasak.Maryono teringat akan kata
dari gurunya.Sejenak ia merenung dan
berbisik lirih di dalam hatinya bahwa mungkin ini kehendak Tuhan agar Maryono
berpuasa .Ia pun tetap tulus menghadapi
semua itu .Ternyata ,karena puasa yang sering Maryono jalani dengan
tulus itu pun membuat beberapa penyakit yang seringkali melanda Maryono telah
hilang,karena rizki itu Maryono semakin iklas manjalani hidup berasama
keluarganya”
Aku semakin merapatkan
sandaranku pada ayah .Setiap kata-kata
yang keluar dari mulutnya aku dengarkan
dengan seksama walau aku tahu ayah bukanlah sosok yang pandai bercerita ,tapi
dekapan tangannya dan ketulusan yang ayah berikan kepadaku telah
nenyejukkanku.Sejenak ayah pun menghentikan ceritanya karena batuk yang beliau
derita yang hampir seminggu lebih ini.Sesaat kemudian ,masih tentang Maryono,ayah melanjutkan
ceritanya.
“Suatu hari Maryono mendapat
kepercayaan dari tetangganya untuk memelihara seekor induk sapi dan anak sapi
yang kira-kira dihargai 4 juta oleh si pemilik .Tanpa pertimbangan lagi Maryono
menerima tawaran itu dengan senang hati.”Mungkin ini addalah jalan yang harus
aku tempuh “gumam Maryono lirih.
Setelah satu tahun lamanya
Maryono memelihara sapi,kini si induk sapi memiliki dua anak yang masing-masing berumur 1 dan 2
tahun.Suatu ketika si pemilik menyuruh Maryono untuk menjual salah satu anak
sapi itu.Si pemilik menjanjikan setengh dari keuntungn menjual anak sapi diberikan
kepada Maryono.Sesampainya di pasar ,anak sapi itu di tawar Rp 4.800.000,jika
dihitung –hitung hanya mendapat untung
sebesar Rp 800 000 saja.Maryono ragu dengan tawaran itu ,Maryono takut
si pemilik mendapat keuntungan yang tidak seperti yang diharapkan si pemilik
karana nantinya keuntungn akan di bagi dua dengan Maryono.Sebenarnya Maryono
tidak peduli dia mendapat bagian berapa,yang Maryono khawatirkan hanyalah
kepuasan si pemilik sapi.
Hari itu ,kembali Maryono
tuntun anak sapi pulang tanpa hasil
.Keesokan harinya Maryono dating
menghadap sang pemilik dan mengutarakan
hasil penawaran yang Maryono dapatkan
kemarin.”Pak saya kurang bisa bersilat lidah dengan pera penawar sapi
,sapi bapak hanya ditawar empat juta delapan ratus,saya takut bapak kecewa
dengantawaran ini,karena itu sapi bapak
saya bawa pulang kembali ,dan kedatangan saya kemari untuk minta persetujuan
bapak apakah sapi bapak dijual segitu atau ingin lebih ,jika bapak ingin lebih
sebaiknya bapak menjualanya sendiri ,karena yang bapak ketahui seya tidak
pandai tawar menawar”kata Maryono merendah
“Ya segitu saja Yon ,itu saja
juga sudah cukup!”jawab si pemilik sapi,setelah mendapat jawaban Maryono
bergegas menjual anak sapi ke penawar yang kemarin ia temui.Setelah anak sapi terjual,dengan
langkah gembira Maryono susuri jalan dengan kaki yang tak beralas apapun
kecuali kulitnya sendiri,dengn keadaan itu Maryono pergi ke tempat pemilik sapi
untuk memberikan uang hasil penjualan sapi.
Keesokan harinya,pemilik sapi datang
dan memberi sebuah amplop kepada Maryono,tanpa nafsu
apapun Maryono membuka amplop itu,Bagai tersembar petir Maryono kaget dengan
isi amplop itu,yang sebenarnya berisi sejumlah uang yang sangat berjumlah
Rp2.400.000 ,yaitu setengah dari harga jual sapi,Maryono terkejut dan tidak
percaya dengan apa yang dilihatnya
Esok harinya Maryono bertanya
dengan si pemilik sapi tentang uang bagiannya yang diberikan pemilik sapi
kemarin “Pak ,uang yang bapak berikan kemarin apa tidak terlalu banyak ,kata
bapak bagian saya adalah setengah dari keun tungan bukan setengah dari harga
jual,apa jumlah yang bapak berikan tidak terlalu banyak pak?”Tanya Maryono
gelisah “Tidak
Yon memang segitu yang ingin aku berikan
kepadamu!”Jelas si pemilik ,Maryono masih ragu untuk menggunakan uang itu ,Maryono
mengira uang itu belun pantas untuk iya gunakan karena pikirnya uang itu bukan
haknya,jadi Maryono hanya menyimpan usng itu di almari dan tidak pernah iya
sentuh sampai setahun lamanya .
Hingga suatu hari seorang teman
datang menawari Maryono sepedah montornya untuk dibeli Maryono.”Yon
….sekarang aku lagi butuh uang ,kau belilah motorku ini !”pinta
temannya
“bagaimanaya…,kamu kan tau
bagaimana keadaanku tak mungkin aku bisa membeli montormu dengan harga
mahal.”jelas Maryono,
“taka pa lah kamu beli montorku
ini dengn harga murah,begini saja kamu belilah montorku ini dengn harga 2 juta
4 ratus ribu,itu sudah harga terendah kutawarkan khusus untukmu!”tawar si
teman.Seketika Maryono itu Maryono teringat uang yang telah disimpannya di
almarinya selama ini,sejenak dia tertegun dan tidak terasa buliran air mata
menetes di pipinya saat dia memegang uang hasil jerih payahnya yang telah lama
di simpan,kini Maryono tuhan telah menunjukkan kebesaran-Nya kepada dia bahwa uang itu memanglah hak
Maryono bukan seperti yang Maryono fikirkan
selama ini,dengan uang itu Maryono membeli motor temannya
Dua hari kemudian si pemilik sapi datang dan
mengetahui bahwa Maryono sudah memiliki motor.”Yon ,motormu baru ya…?”,Tanya si
pemilik sapi
“ya beginilah pak ,hanya motor
sederhana”,jawab Moryono
“Begini Yon,juallah anak sapiku yang satunya ,kamu
jual berapa saja terserah kamu !”,suruh pemilik sapi.Setelah terjual Maryono
datang ke rumah pemilik sapi untuk menyerahkan uang hasil penjualan.Tapi si
pemilk sapi berkata,”Kenapa kamu menyerahkan uang ini kepada ku?”,kata si
pemilik sapi.Maryono terkejut dan sama sekali tidak menyangka dengan apa yang
baru ia dengar.Mendengar cerita ayah,aku kagum dengan ketulusan Pak Maryono.
Masih tentang Maryono,kembali ayah
melanjutkan ceritanya di malam ini.
Bukan itu saja wujud kasih sayang Tuhan
pada Maryono.Suatu hari di tempat Maryono bekerja seorang teman mengajaknya
pindah bekerja di tempat lain yang lebih besar gajinya,,taspi Maryono
menolak.Mengetahui percakapan Maryono dengan temannya majikan Maryono menyuruh
dia ikut temannya bekerja di tempat lain yang gajinya lebih besar,akan tetapi
Maryono todak mau menuruti perintah majikannya itu,dia berkata kepada
majikannya”Tidak pak ,saya belerja di sini saja sampai bapak tak membutuhkan
saya lagi saya tidak akan pundah ketempat lain, karena saya percaya bekerja ditempat bapak ini merupakan perintah
Tuhan yang harus saya jalani”,jawab Maryono.karena terharu dengan pekataan
Maryono membuat si majikan menaikkan gaji Maryono ,kembali Maryono tertegun
dengan kejadian itu ,ia merasa Tuhan begitu menyayangi diri dan keluarganya.
Tiga hari setelah itu ,tetengga Maryono
memintanya untuk merawat kambingnya.Maryono .Maryono pun dengan senang hati
memenuhi permintaan tetangganya itu .ia
pun menjalankan tanggung jawabnya dengan telaten,hingga suatu hari si kambing yang telah lama bunting kini
sudah melahirkan tiga anak
sekaligus.Saat itu adalah masa-masa paling sibuk ,karena anak-anak
kambing butuh perhatian khusus .Dirasa anak-anak kambing sudah bisa mandiri ,maka
Maryono bisa sedikit lebih rileks.Paginya Maryono terkejut ketika menyaksikan
tiga anak kambing yang dipeliharanya
mati tertindih tubuh induknya .dengan keberanian dan berbekal tanggungjawab
yang besar ,Maryono melaporkan kejadian pagi tadi kepada ibu pemilik kambing ,”Bu
saya minta maaf ,semua ank kambing ibu
meninggal semua ,karena tertindih tubuh induknya “.Mengetahui apa yang terjadi
pada kambingnya,pemilik kambingmarah marah dan memaki Maryono “kamu ini
bagaimana tr kamu itu gak becus merawat kambing-kambingku,ya sudah kalau begitu
aku ambil kembali kambing-kambingku”.Namun ,Maryono hanya bisa pasrah dan
percaya bahwaii semua sudah diatur oleh
Tuhan ,dan Tuha selalu tahu atas apa yang terbaik bagi hambanya .Maryono berpikir
,”Mungkin aku memang kurang maksimal mengurus kambingnya itu .Tapi ya sudahlah “,ucap Maryono dalam hati
.Mengetahui apa yang terjadi pada kambingnya,nampajk jelas guratan kecewa
pemilik kambing pada Maryono .Tanpa pilihan lain ,Maryono pun mengiklaskan apa
yang terjadi pada dirinya .Kembali ia percaya bahwa ini semua kehendak –Nya
.Keesokan harinya si pemilik datang dan member sejumlah uang kepada Maryono
.Maryono kebingungan dan bertanya kepada si pemilik kambing “Bu…kenapa ibu
member saya uang,bukankah ibu belum mendapat untung dari kambing ibu?”Tanya
Maryono,”ya in hakmu ,dan ini juga
kewajibanku!”,jawab si pemilik kambing.sekali lagi ia buat tertegun dengan apa
yang ia alami.Kembali ia berbisik “oh Tuhan,terimakasih.Maafkan aku yang telah
berburuk sangka kepadaMU dan Engkau telah menunjukkan kasih sayang –Mu
kepadaku.
“Nah ,begitu ceritanya
,sekarang apakah kamu sudah
menemukan jawaban dari masalah mu?,dan sudahkah kamu menemukan kasih sayang
Tuhan?”,”oh satu lagi apa kesimpulanmu dengan cerita ini?”,Tanya ayah kembali
.Aku hanya tersenyum.pikirku pertanyaan ayah sama saja dengn ayah apakah aku
akan melakukan hal layaknya yang Maryonp lakukan .
Begitulah ,obrolan kami malamini
.Tidak terasa malam makin larut ,ayah pun menyuruhku untuk segera tidur karena
esok kami harus segera betangkat menuju bandara untuk menjemput ibu yang sudah
sekian tahun meninggalkan kami berdua,mengadu nasib di negri orang!
Kuatkah aku esok ,ketika aku tahu
bahwa ibu sudah tidak sendiri lagi,.Esok ibu akan menemui kami sambil mendekap
anak kecil yang masih membutuhkan dekapannya .Seorang balita yang lahir dari
rahimnya .Masihkah aku harus mencurigai-Nya ?”.Andai saja aku boleh memilih
,aku ingin seperti sosok Maryono yang di
ceritakan ayah,tapi entahlah….










