KARNENA
PUJIAN
Karna pujian aku menjadi seperti ini,aku terlalu tamak dengan setiap
pujian yang dilontarkan dari mulut halus orang –orang itu, sombong kata yang tidak asing lagi bagiku karena kata
yang terdiri dari 7 huruf itulah yang mewakili sifatku,bagai mana aku bisa jadi
seperti ini ?,kenapa aku tidak sadar dengan ketamakanku?,kenapa aku tidak sadar
dengan perilaku burukku ?,kenapa aku tidak sadar bahwa di atas langit masih ada
langit yang lebih tinggi? ,bagaimana bisa aku tergoda dengan bujukan jahat
setan itu?,kenapa aku baru menyadarinya?,setelah semua milikku telah hilang!,seharusnya
aku bisa menjawab semua pertanyaan itu,tapi apa ....?,aku tak tau apa jawab nya
jawaban dari setiap pertanyaan yang kini terngiang-ngiang dalam fikiranku,yang ku
tau sekarang ini hanya aku adalah orang yang kotor,orang yang rendah , orang yang
menjijikkan .kini hanya sesal yang aku rasakan
Sebelum
ini aku bukan siapa-siapa,hanya seorang siswa yang hanya belajar dan belajar,suatu hari ayahku
meng ikutkanku berlatih menari di salah satu sanggar terkenal di daerahku
awalnya aku sangat menyukainya ,sampai 2 tahun lamanya aku berlatih menari di
sanggar itu dan rasa bosan semakin lama semakin tumbuh dan membuatku memilih
berhenti menari.
Berhentinya
aku menari membuat aku menjadi anak yang biasa kambali,tanpa bakat dan tanpa
kegiatan apa-apa kecuali sekolah ,bermain ,dan makan.hal ini berlang sung
sampai aku mengikuti lomba membaca puisi dan aku menang sebagai jiara pertama
di lomba itu,dari sinilah aku mendapat pujian ter besar dan benih kesombongan yang pertama kali yang
terjadi dalam hidupku,kehidupanku terus berlanjut aku terus mengikuti berbagai
lomba yang salah satunya adalah lomba pidato yang berhasil mengantarkanku
menjadi the winner,kembali lagi dengan kemenangan ini semakin banya orang yang
memujiku dan semakin besar saja kepalaku ini.
Selanjutnya
saat aku masih di bangku SMP aku memiliki lebih banyak taman,di sini mengenal seseorang yag memiliki bakat
menyanyi yang sangat hebat dia sering sekali mendapat juara melebihi aku.walau
sudah ketahuan bahwa aku kalah telak dengannya aku tetap berfikir aku yang terbaik ,aku tidak
mau mengakui kehebatannya aku masih menganggap bahwa akulah yang terbaik,aku
selalu mencari-cari kekurangannya dan membndingkannya dengan kelebihan yang aku
miliki,aku selalu memandang kelemahan seseorang dan kelebihanku saja ,suatu
hari diadakan lomba berpidato di sekolahku ,saat itu ada seorang yang berkata
padaku “mungkin kamu tidak akan menang dalam lomba ini” aku hanya diam dan
berkata dalam hatiku,”lihat saja nanti yang menjadi juara pertama adalah aku
,karena aku yang lebih berpengalaman dalam
hal ini,aku pernah menjadi juara pertama di bidang ini sedang sainganku
sepertinya tidak berpengalaman sama sekali”,sayangnya yang aki prediksikan ini
melenceg jauh dengan kenyataan yang
terjadi,aku bukanlah seorang pemenang,karena kecewa aku menjadi berfikiran negatif ,aku berfikir
bahwa juri dari lomba itu telah di sogok dengan sejumlah uang,sungguh fikiran
yang picik. dewi penolongku .






0 komentar:
Posting Komentar